Pendidikan Terbaik Dimulai dari Keluarga

Diposting pada

Pendidikan KeluargaSetiap kali Hari Pendidikan Nasional datang, pikiran kita tertuju pada sekolah. Pendidikan sudah sangat identik dengan sekolah, sampai Hari Pendidikan Nasional menjadi milik sekolah. Sekolah lah yang mengadakan berbagai bentuk peringatan. Kita lupa, bahwa keluarga adalah tempat pertama dan utama dalam pendidikan kita, sehingga peran keluarga dalam pendidikan menjadi sangat vital.

Pendidikan Keluarga

Berbagai perilaku kita berawal dari belajar yang paling dasar, yaitu mengamati. Siapa yang paling sering kita amati sejak kita lahir sampai saat ini? Iya, orang-orang dekat kita dalam keluarga. Cara bicara, bersikap dan pertindak kita berasal dari mengamati apa yang biasanya dilakukan oleh ayah dan ibu kita. Bahkan untuk hal-hal yang tidak tampak sekalipun, seperti pikiran dan perasaan, kita mengamati dan meniru dari keluarga. Anak itu peka dalam mengamati ekspresi dan gestur kita, sehingga merekapun bisa belajar bagaimana kita berpikir dan merasa.

Karena itu, Hari Pendidikan Nasional adalah momentum pengingat bahwa keluarga adalah tempat pertama dan utama untuk pendidikan anak kita. Karena sudah diingatkan, maka hendaknya kita menguatkan keluarga sebagai tempat yang membuat anak kita pintar, kuat fisik dan mental, mampu berhubungan sosial dan berbudi pekerti yang luhur.

Menjadikan keluarga sebagai pilar utama pendidikan anak, bukan tanpa alasan. Hal-hal berikut ini adalah kekuatan keluarga yang membuat keluarga harus dipercaya sebagai pemegang amanah pendidikan yang utama.

1. Keluarga adalah micro system yang paling dekat dan kuat pengaruhnya

Keluarga adalah sistem terdekat dengan anak. Anak mengamati perilaku orangtua sehari-hari, termasuk bagaimana ayah dan ibu berinteraksi. Bukan cuma pengaruh langsung dari kata-kata dan perbuatan ayah ibu, persoalan mereka yang dibawa ke rumah, juga dapat mempengaruhi anak. Misalnya ayah atau ibu sedang dipromosikan atau justru mendapat persoalan di tempat kerja (meso system), jika tidak bisa mengontrol diri, maka anak akan mengamati. Mereka akan terpengaruh oleh tabiat orangtua.

2. Anak belajar dari mengamati

Belajar yang paling awal dari anak kita adalah mengamati. Sejak lahir hingga bisa menatap bayang-bayang dunia, anak kita mulai mengamati, belajar membedakan ayah dan ibu atau ayah/ibu dengan orang lain. Sudah mulai menghayati ikatan emosional dengan orang dekat, yang semuanya berawal dari mengamati. Anak sangat peka mengamati lingkungannya, terutama gerak-gerik dan perilaku orang dekatnya.

3. Waktu terpanjang anak adalah bersama keluarga

Meski tidak semua keluarga punya waktu yang panjang bersama anak, tapi sebagian besar anak lebih banyak berkumpul dengan keluarga daripada bermain dengan teman atau belajar di sekolah. Hanya saja, karena sebagian besar sudah berpikir bahwa belajar itu di sekolah, dan hanya sekolah yang layak dipercaya, maka ketika di rumah, anak dianggap tidak belajar dari orangtua. Itu lah yang membuat waktu panjang itu kurang dimanfaatkan untuk pendidikan.

4. Rumah adalah tempat pulang

Secara naluriah, rumah itu menggambarkan figur yang merawat. Karena ketika kita pulang adalah ke rumah, maka sebenarnya rumahlah tempat untuk mengembalikan semua masalah, segala keluh kesah. Rumah itu seperti memeluk kita, tempat untuk berbagi dan bercerita. Seberat apapun kehidupan di luar sana, pulang adalah cara untuk melepaskan ketegangan emosi dan kelelahan.

Dengan beberapa pertimbangan tersebut, mari kita jadikan keluarga sebagai peletak dasar pendidikan yang kokoh. Mari kita jadikan keluarga sebagai tempat pendidikan terbaik buat anak-anak kita. Karena pendidikan keluarga akan sangat menentukan masa depan anak kita.