Meningkatkan Kemampuan Bahasa Anak Melalui Metode Bercerita

Diposting pada

Kemampuan anak dalam berbahasa secara tepat, baik secara konteks (tempat dan waktu), maupun tujuan, bisa ditingkatkan dengan bercerita. Manfaat bercerita ini akan lebih optimal jika memperhatikan bagaimana cara bercerita yang tepat. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas bagaimana meningkatkan kemampuan bahasa anak melalui metode bercerita. Namun sebelum kesitu kita harus tahu terlebih dahulu apa manfaat bercerita bagi kematangan berbahasa anak.

Manfaat Bercerita untuk Kematangan Bahasa Anak

Manfaat Bercerita untuk Kematangan Bahasa Anak

Berbahasa adalah bagian dari perkembangan diri anak. Tiap anak punya kecepatan yang berbeda dalam perkembangan bahasanya. Begitu juga dengan kematangan dalam berbicara. Perkembangan bahasa anak terjadi dengan kecepatan yang berbeda-beda. Apakah anak anda sudah pandai berbicara? Atau justru mengalami kesulitan dalam menyusun kata-kata? Coba perhatikan lagi, bagaimana kebiasaan komunikasi kita dengan anak? Apakah kita sering mengajaknya berbicara? Apakah kita terbiasa mengajak bercerita?

Berbicara soal kemampuan berbahasa, kita bisa memilahnya jadi dua istilah, yaitu bisa dan matang. Artinya, ketika anak belajar untuk bisa berbahasa, maka hasilnya adalah bisa, yakni mampu berbicara. Namun untuk istilah matang, lebih mengacu kepada interaksi yang lebih menyeluruh. Jika anak dikatakan matang dalam berbahasa, berarti tidak hanya bisa, tetapi dapat melakukannya dengan tepat, sesuai konteks dan bisa menempatkan diri bersama orang yang diajak bicara.

Dalam kemampuan berbahasa, kita mengenal istilah sintaksis, semantik dan pragmatik. Sampai batas bisa menyampaikan sesuatu dan memahami komunikasi orang lain (sintaksis dan semantik), berarti anak sudah bisa menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Namun untuk penggunaan yang baik secara sosial, anak perlu belajar kemampuan pragmatik.

Sintaksis berkenaan dengan struktur atau susunan. Bahasa terdiri dari huruf, kata, kalimat. Nah, susunan diantara unsur tersebut disebut sintaksis. Semantik berkenaan dengan makna bahasa. Kata atau kalimat punya arti. Nah secara sederhana, itulah yang disebut semantik. Bagaimana dengan pragmatik. Bagian yang ketiga ini berkaitan dengan ketepatan berbahasa secara emosi dan sosial. Ketika berbicara dengan orang, maka tidak hanya kata-kata yang diperhatikan, tetapi juga cara berbicara, apakah sudah tepat dengan tempat, waktu dan tujuan.

Menurut Naom Chomsky kita semua punya linguistic acquisition device (LAD), yaitu kemampuan naluriah untuk menyerap dan memproduksi bahasa. Nah, skema ini hanya akan jadi potensi, atau berkembang dengan lambat, jika tidak diberi stimulasi. Orangtua yang suka mengajak anaknya ngobrol, akan mengembangkan potensi alamiah ini. Namun tidak cukup mengembangkan potensi bahasa anak hanya sampai tahap bisa, tetapi juga tepat penggunaannya (kemampuan pragmatik).

Bercerita punya keunggulan dalam meningkatkan kemampuan berbahasa mulai dari menyusun struktur, mengetahui makna, sampai pada matang menggunakannya. Berkomunikasi biasa saja, sudah bisa membuat anak bisa berbahasa, apalagi bercerita. Bagaimana bercerita mampu meningkatkan kematangan berbahasa anak?

1. Bercerita mendeskripsikan, bukan menjelaskan

Bahasa deskriptif atau penggambaran lebih cair dibandingkan bahasa penjelasan (preskriptif). Bahasa yang cair membuat anak menjadi nyaman. Ketika anak nyaman, maka dia akan mengeksplorasi dirinya, termasuk pengalamannya, perasaannya, apa yang dipikirkan dan sebagainya. Pada saat mengeksplorasi, anak akan melakukan naming (memberikan istilah dan mengartikannya). Naming adalah proses identifikasi. Semakin banyak anak mengidentifikasi pengalamannya, baik nyata maupun yang diimajinasikan, maka kemampuan berbahasa anak akan meningkat.

Berbeda dengan bahasa penjelasan. Menjelaskan memang dapat membuat anak tahu. Karena itu juga bisa membuat anak bisa berbahasa. Hanya saja, bahasa penjelasan sudah langsung memberi tahu, mengidentifikasi sesuatu. Kesempatan anak untuk mengidentifikasi sendiri lebih sempit jika dibandingkan dengan bahasa cerita.

2. Cerita melekat dengan emosi yang dikandung oleh ceritanya

Cerita itu mengandung emosi tertentu, ada sedih, senang, kagum, kaget dan sebagainya. Hal ini diperkuat lagi dengan menceritakannya. Seorang pencerita akan menyampaikan emosi yang terkandung dalam bercerita dengan bahasa lisan, ekspresi, gestur (bahasa tubuh) dan tatapan mata. Hal ini akan melatih anak untuk peka secara emosional. Kepekaan ini bermanfaat untuk mengasah empati dan kesesuaian sikap anak ketika berinteraksi dengan orang lain.

3. Bercerita melekatkan kata pada realita

Cerita mengaju pada gambaran nyata. Anak mengalami apa yang diceritakan oleh penceritanya. Coba bayangkan ketika seorang pendongeng mengatakan, “Di pagi hari yang sejuk sampai menusuk tulang, sayup-sayup kilatan matahari mulai menyilaukan. Namun hangatnya belum sanggup mendandingi terpaan dingin dari angin pegunungan”. Pasti kita langsung terbawa ke sebuah pegunungan dengan suasana seperti yang diceritakan. Hal ini dapat mengasah kepekaan kita pada lingkungan, membuat kita lebih peduli untuk mengamati. Hal ini dapat meningkatkan kematangan berbahasa anak. Ketika menyampaikan sesuatu lebih meyakinkan, karena bisa membawa pendengarnya kepada sebuah kondisi atau situasi.

4. Bercerita berarti menyampaikan gambaran menyeluruh

Bercerita itu tidak seperti menjelaskan. Ketika bercerita, kita bisa melihat, mendengar dan merasakan isi ceritanya. Hal ini yang membuat kita seolah-olah mengalaminya. Bahasa penjelasan tidak langsung menunjuk kepada kenyataan, sehingga sifatnya lebih parsial (per bagian). Pengalaman yang menyeluruh, dapat membuat anak membuat gambaran dan menyampaikannya dengan lebih lengkap. Hal ini adalah salah satu indikasi kematangan dalam berbahasa.

Coba perhatikan anak kita. Apakah mereka sudah mampu berbicara? Lebih dari sekadar berbicara, apakah mereka mampu berbicara secara tepat? Artinya, mereka bisa menempatkan diri ketika berbicara, sehingga sesuai dengan waktu, tempat, orang yang diajak bicara serta tujuannya? Yang terakhir ini disebut sebagai kematangan berbahasa.

Meningkatkan Kemampuan Bahasa Anak Melalui Metode Bercerita

Meningkatkan Kemampuan Bahasa Anak Melalui Metode Bercerita

Pertanyaan selanjutnya, apakah kematangan bahasa anak/adik kita sama seperti anak-anak seusianya? Nah, untuk pertanyaan satu ini, coba kita lihat lagi bagaimana kita berkomunikasi dengan mereka, apakah kita sering mengajaknya bercerita. Bercerita dapat meningkatkan kematangan bahasa anak. Hanya saja, bagaimana agar kita bisa memanfaatkan bercerita untuk mengoptimalkan kematangan bahasa anak? Beberapa hal berikut ini perlu diperhatikan ketika bercerita atau mengajak anak dalam aktivitas bercerita.

1. Transformasikan tujuan nyata dari bercerita ke dalam bahasa cerita

Dalam bercerita, kita punya maksud atau tujuan. Orangtua atau pendamping, menginginkan perubahan terjadi pada anak sebagai efek dari bercerita. Perubahan ini tentu terjadi di kehidupan nyata anak, sedangkan kita punya media bercerita yang mungkin tidak langsung menceritakan tentang perubahan tersebut secara nyata. Artinya, perubahan nyata alam kehidupan anak diubah dalam bahasa cerita, ada tokoh, setting tempat dan waktu, alur, peristiwa dan sebagainya.

Untuk itu, kita perlu memindahkan kehidupan nyata yang dialami oleh anak ke dalam bahasa cerita. Jika anak sedang sulit untuk mengubah perilakunya, misalnya saja tidak mau bangun pagi, maka kita perlu tahu berbagai hal yang berkaitan dengan bangun pagi. Kita perlu mengamati, bagaimana perilaku anak sehubungan dengan bangun pagi. Udara dingin, enggan mandi, asiknya berada di bawah selimut, berbagai aktivitas pagi yang menyenangkan, misalnya minum teh dan olah raga, adalah berbagai hal yang mungkin berkaitan dengan bangun pagi. Nah, hal-hal ini bisa dimasukkan ke dalam bahasa cerita.

Semakin berhubungan sebuah cerita dengan kehidupan anak, maka proses identifikasi bahasa dengan realita yang ditunjuknya akan menjadi lebih mudah. Meskipun ceritanya bersifat metaforik atau cerita rekaaan, jika ada kenyataan dalam kehidupan anak yang ditunjuk, maka hal ini dapat membantu anak dalam berbahasa sesuai dengan konteks yang ditunjuk. Kematangan bahasa anak akan lebih terlatih.

2. Manfaatkan tokoh cerita

Jika sebelumnya kita berbicara tentang transformasi kenyataan kehidupan anak ke dalam cerita, kali ini kita akan manfaatkan penokohan di dalam cerita sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan bahasa anak melalui metode bercerita. Artinya, kita akan menransformasikan anak ke dalam tokoh cerita. Anak yang kita tuju sebagai target yang akan diubah melalui cerita, dijadikan tokoh cerita. Dengan anak menjadi tokoh cerita, maka anak akan mengalami apa yang dialami oleh tokohnya.

Memasukkan anak sebagai tokoh cerita bukan berarti harus menggunakan nama anak itu sebagai tokoh, atau menceritakan kehidupannya secara langsung di dalam cerita. Dalam penokohan, yang terpenting adalah penciptaan karakter, apapun nama tokohnya, meskipun karakter sendiri bisa tersirat dari namanya. Artinya, kita bisa pakai nama berbeda atau jenis mahluk yang berbeda (misalnya dalam cerita fabel), namun karakternya mirip dengan anak yang kita tuju.

Bagaimana penokohan bisa membantu meningkatkan kematangan bahasa anak? Kita berikan tokoh pengalaman yang kaya dan nyata dalam cerita. Pengalaman yang kaya berarti ada variasi pengalaman yang terjadi pada diri tokoh. Pengalaman nyata berarti penggambaran ceritanya benar-benar bisa dialami di benak pendengarnya, yaitu anak yang dimaksud. Hal ini akan mengasah kemampua anak dalam kepekaan penggunaan bahasa secara tepat, menunjuk pada konteks dan tujuan yang tepat.

3. Manfaatkan peristiwa dan konflik

Dalam cerita, pasti ada peristiwa-peristiwa dan konflik yang dialami tokohnya. Cerita menghadirkan pengalaman di benak pendengarnya. Karena itu, peristiwa-peristiwa tersebut harus tergambar nyata di benak pendengarnya. Selain peristiwa, ada juga konflik. Pendengar atau anak sedapat mungkin (atau malah harus) bisa merasakan dan ikut mengalami konflik tersebut di benaknya. Hal ini juga bisa mengasah kepekaan anak dalam konteks interaksi sosial.

4. Manfaatkan alur cerita

Dalam cerita juga mengandung alur atau sambungan peristiwa-peristiwa. Fluktuasi cerita harus bisa kita mainkan, sehingga tokoh mengalami sebuah perjalanan yang mengikuti sebuah plot atau alur. Hal ini juga bisa membuat anak masuk ke dalam sebuah perjalanan. Aliran peristiwa ini juga membuat anak atau pendengar peka terhadap konteks dan perubahan konteks. Efeknya, bisa meningkatkan kepekaan dalam berbahasa di berbagai konteks yang berbeda.

5. Bercerita tentang cerita

Kalau di bagian sebelumnya kita berbicara tentang memanfaatkan isi cerita, di bagian ini kita memanfaatkan moment di luar cerita. Setelah bercerita, kita bisa mengajak anak untuk review cerita. Anak juga boleh menceritakan kembali sesuai dengan pemahamannya (parafrase). Selain berguna untuk mengetahui pemahaman anak terhadap isi cerita, juga bisa melatih anak untuk melekatkan reviewnya dengan berbagai hal yang ada dalam cerita, misalnya dengan peristiwa, alur, tokoh dan hubungan antar tokoh.

Itu tadi adalah beberapa cara untuk meningkatkan kemampuan bahasa anak melalui metode bercerita. Lalu bagaimana cara penggunaan gaya komunikasi yang tepat agar aktifitas bercerita menjadi efektif dan tidak sia-sia?

Menggunakan Gaya Komunikasi Anak untuk Efektifkan Aktivitas Bercerita

Meningkatkan Kemampuan Bahasa Anak Melalui Metode Bercerita

Anak punya cara berkomunikasi sendiri yang unik, begitu juga ketika berbicara dengan kita, orang dewasa. Persoalannya, anak dan orang dewasa kadang bertahan dalam gaya berkomunikasinya masing-masing. Efeknya, komunikasi jadi tidak efektif. Begitu pula ketika kita bercerita kepada anak. Kali ini, kita akan bahas bagaimana menggunakan gaya komunikasi anak untuk efektifkan aktivitas bercerita.

Pernah bercerita? Syukurlah kalau pernah, apalagi kalau sudah menjadi kebiasaan. Mari kita lihat, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Universitas Gajah Mada. Hasil studi menyebutkan bahwa orangtua yang beranak dengan usia kurang dari 4 tahun, 60% tidak pernah membacakan buku, 50% tidak pernah mendongeng. Orangtua dengan anak kurang dari 1 tahun, 70% tidak pernah mendongeng dan 80% tidak membacakan buku.

Apa yang bisa dipelajari dari hasil riset tersebut? Ada dua arah logika yang bisa kita pelajari, antara kemauan kita untuk mengawali bercerita dengan kemudahan kita dalam bercerita. Hasil riset tersebut, satu sisi menunjukkan kemauan orangtua untuk bercerita rendah, sehingga menyebabkan kesulitan dalam bercerita. Kesulitan ini berdampak tidak terbiasanya bercerita. Dari arah yang berlawanan, ketika kesulitan bercerita, maka kemauannya untuk bercerita menjadi surut. Yang jelas, keduanya sama-sama membuat hilangnya budaya bercerita dalam keluarga.

Salah satu penyebab yang sangat menghambat dalam memulai bercerita kepada anak adalah ketidakbiasaan kita menggunakan gaya anak-anak. Gaya anak-anak ketika berkomunikasi adalah ekspresif. Mereka jujur atas rasa ingin tahu, apa yang dipikirkan dan apa yang dirasakan.

Kita sering menempatkan posisi kita sebagai orang dewasa yang berjarak dengan anak-anak. Karena itu, ketika akan bercerita dengan gaya anak-anak, akan mengalami kesulitan. Perasaan yang muncul ketika akan memulai bercerita dengan gaya anak-anak adalah tidak nyaman. Jika rasa tak nyaman ini dituruti, dapat menghentikan sama sekali niat untuk bercerita.

Karena itu, penting untuk membiasakan diri menggunakan gaya komunikasi anak ketika bercerita. Untuk itu kita perlu mempelajarinya. Berikut ini adala hal-hal yang perlu diperhatikan agar kita bisa bercerita dengan menggunakan gaya berkomunikasi anak-anak.

1. Mendekatlah, perkecil jarak

Jika kita adalah orangtua yang dekat kepada anak/adik kita, maka itu adalah amunisi yang berharga. Saya yakin, akan lebih mudah dalam bercerita, minimal berkomunikasi dengan anak. Nah, buat yang belum dekat dengan anak/adiknya, modal dasar ini perlu dipenuhi.

Jika kesulitan dalam meningkatkan frekuensi pertemuan dengan anak/adik, maka perbaiki kualitasnya. Ada sebuah iklan biskuit yang menarik, seorang ayah mengatakan kepada anaknya, “Ini rahasia kita kan?”. Tahu iklan apa itu? Cara yang diterapkan oleh ayah tersebut adalah langkah sederhana untuk membangun kedekatan dengan anak. Sesuatu yang lebih personal telah menghubungkan mereka berdua, yaitu rahasia. Untuk itu, perlu waktu untuk bisa memperoleh moment-moment seperti itu. Kalau tidak bisa secara frekuensi, maka luangkan paling tidak tiga kali dalam seminggu. Atau jika ada kesempatan menjelang tidur untuk bercengkerama dengan anak, maka lakukan. Tentunya yang dilakukan adalah aktivitas-aktivitas milik anak, bukan kemauan atau ketentuan orangtua.

2. Kebutuhan anak adalah kebutuhan kita

Bayangkan, apa yang akan terjadi pada anak kita 10 tahun kemudian, ketika dia terbiasa mendengarkan cerita. Tidak usah jauh-jauh, bayangkan saja bagaimana ekspresi anak ketika cerita yang kita bawakan berakhir. Jika kita sudah bisa membayangkan perubahan pada diri anak, baik perasaan, perilaku maupun cara berpikirnya, setelah mendengarkan cerita kita, maka jadikan itu kebutuhan kita. Anak berubah ke arah positif, maka kita juga memperoleh dampaknya. Anak senang, orangtua senang.

3. Perlu menantang diri

Ini adalah bagian menarik untuk kita yang mulai membiasakan diri untuk bercerita. Tantangan itu penting, misalnya dengan melompat di hadapan anak dan bilang, “Halo, Mama punya cerita lho buat Kamu”. Kalau kita sudah menyiapkan ceritanya, maka tantangannya adalah menceritakannya. Mengatakan “Halo, Mama punya cerita lho buat kamu” adalah cara agar kita tidak ada peluang untuk membatalkan niatnya. Anak-anak adalah orang yang paling serius soal janji. Ketika kita mengatakan janji, mereka pasti menagihnya. Tantangan menjadi semakin besar ketika kita sebenarnya tidak mempersiapkan cerita sebelumnya. Nah, berani?

4. Keluar dari batas diri, berlatihlah

Tiap hari kita berada dalam jadwal yang nyaris tetap. Hal ini tidak hanya membentuk kebiasaan, tetapi juga kenyamanan. Rasa nyaman inilah yang tidak ingin kita ubah. Mengikuti kebiasaan atau cara berkomunikasi anak adalah tantangan tersendiri. Tidak semua orangtua bisa nyaman melakukan ini.

Latihan-latihan kecil bisa dilakukan. Ekspresi dan gesture adalah dua faktor yang perlu diberdayakan, seperti ketika anak-anak berbicara. Anak-anak itu lebih jujur soal berekspresi dan menggunakan bahasa tubuh. Anak-anak sangat ekspresif. Pertanyaannya, apakah kita sudah cukup ekspresif? Senam wajah adalah latihan kecil yang bisa dilakukan untuk mengoptimalkan ekspresi ketika berbicara. Menggerakkan tubuh seperti senam, misalnya brain gym juga bisa dilakukan.

Nah, demikian tadi adalah pembahasan mengenai cara meningkatkan kemampuan bahasa anak melalui metode bercerita lengkap dengan manfaat bercerita bagi kematangan bahasa anak serta bagaimana menggunakan gaya komunikasi anak agar kegiatan bercerita menjadi lebih efektif. Semoga bisa menjadi informasi yang bermanfaat untuk anda semuanya, terima kasih.